BREAKING NEWS

Selasa, 25 Agustus 2020

SEJARAH SEKOLAH


 Berawal dari keinginan kuatnya untuk bisa menjadi guru bagi anak-anak yang memiliki keterbatasan, Binti Rohana dan beberapa temannya mendirikan sebuah sekolah sederhana yang diperuntukkan bagi mereka. Sekolah yang didirikan oleh Binti bukanlah sekolah yang dilengkapi fasilitas khusus untuk penyandang cacat. Sekolah tersebut hanya berupa sebuah perkumpulan anak panyandang cacat yang lokasinya berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain.


Tahun 1992, ketika pertama kali didirikan, sekolah yang sekarang bernama SLB Dharma Wanita ini berlokasi di kecamatan Tarokan, Kediri. Di tengah ketidakpedulian masyarakat saat itu terhadap pendidikan bagi para penyandang cacat, Binti sempat mengalami kesulitan untuk memperoleh murid. Cara yang ia lakukan pun tak bisa dibilang mudah. Binti mendatangi satu persatu anak-anak yang mereka ketahui memiliki kekurangan fisik untuk kemudian diajaknya untuk mau sekolah.

Usaha Binti pun tak sia-sia. Ia berhasil mengajak 15 anak yang bersedia menjadi murid di sekolahnya. Meskipun tak banyak, rupanya 15 anak ini sangat bersemangat menempuh pendidikan. Terbukti ketika sekolah ini harus berpindah-pindah tempat, mereka tetap aktif mengikuti kegiatan di sekolah. Perjalanan yang dilalui oleh Binti pun mengalami banyak tantangan terutama masalah tempat. Sekolah sempat berpindah-pindah dari gedung kosong di area yang cukup terpencil, kemudian pindah ke gudang, pindah lagi ke balai desa yang hendak di gusur, bahkan sempat pula menempati dapur pembuatan kerupuk yang bersebelahan dengan kandang ayam.

Akhirnya pada tahun 2003, Binti mendapat bantuan dari seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Grogol Kediri berupa tanah yang akhirnya menjadi lokasi permanen untuk sebuah gedung sekolah yang lebih layak. Masyarakat pun ikut terlibat aktif dengan memberikan berbagai macam bantuan. Hingga saat ini, SLB Dharma Wanita telah memiliki 74 siswa dan semuanya dibebaskan dari biaya sekolah.

Perjuangan Binti pun semakin terlihat hasilnya. Meskipun memiliki keterbatasan fisik, namun banyak anak didiknya yang justru berprestasi, bahkan di level nasional, di antaranya adalah Srihanik dan Dianti Mandasari. Srihanik dan Dianti adalah salah seorang murid di SLB Dharma Wanita yang menderita tunarungu. Pada Oktober 2011, Srihanik menjadi juara 2 lomba desain grafis tingkat nasional yang diadakan di Yogyakarta. Pada Juni 2014, Dianti menjadi juara 3 dengan jenis lomba yang sama tingkat nasional yang diadakan di Semarang. Sebelum itu, mereka juga sempat menjuarai lomba yang sejenis dengan memperoleh juara 1 dan menyisihkan 32 lawannya dari kota/kabupaten lain di Jawa Timur.

Share this:

1 komentar :

  1. The two most common forms of house 3D printers are resin MSLA and filament FDM . The best 3D printers for newbies or these with youngsters, FDM printers use reels full of plastic filament that is fed into a hot nozzle and extruded out layer-by-layer MATERNITY BRAS to kind a strong mannequin. MSLA printers use a UV-cured resin materials to kind a mannequin layer-by-layer as it rises from a vat of liquid that requires very cautious handling. By eliminating mould making, additive 3d printing shorten the manufacturing occasions of elements by as much as} seventy five %. In product improvement in mannequin and prototype construction and within the manufacturing of small and medium-sized collection or within the manufacture of elements with many variants. Post processing —Many 3D printers will require some quantity of submit processing for the printed object.

    BalasHapus

 
Copyright © 2014 SLB DHARMA WANITA GROGOL. Designed by OddThemes